Pusaka Keris Nogo Topo Kinatah Pamor Segoro Muncar
- Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Nogo Topo Lurus
- Pamor (motif lipatan besi) : Segoro Muncar (Kinatah Kamoragan Kuningan Disepuh Emas )
- Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Alusan
- Panjang Bilah : 37 cm
- Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Cemara
- Handle / Gagang : Kayu Sawo
- Pendok : Bunton Kuningan
- Mendak : Kuningan
- Barang Sama Persis Seperti Di Foto
- Foto Tanpa Editan
- Kode: K121
- Mahar : 1.750.000
- Informasi dan pemesanan hubungi : 0822-3591-7823
Filosofi Keris Nogo Topo Kinatah Pamor Segoro Muncar
Filosofi Dapur Nogo Topo
Nogo Topo atau
Naga Tapa, oleh
sebagian pecinta keris dhapur Naga Tapa kadang-kadang disebut Naga Pasa,
adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus yang ukuran bilahnya tidak
panjang (sedang). Bagian gandik diukir dengan bentuk kepala naga, sedang
bagian badannya lurus ke atas dengan ekornya hampir mendekati pucuk
bilah. Tetapi kadang-kadang bagian naga itu tidak diwujudkan secara
realistis, melainkan berubah bentuk menjadi ricikan lain semisal
ada-ada, sehingga permukaan bilahnya menjadi nggigir lembu.
Biasanya dhapur naga tapa atau naga pasa memakai ricikan tambahan
lain seperti sraweyan dan ri pandan, tetapi ada juga yang memakai
sraweyan dan greneng lengkap. Hampir bisa dipastikan keris dengan relief
naga sengaja dibuat sebagai benda pusaka. Keris-keris pusaka
bereliefkan naga dikagumi dari keindahan dan kharisma fisiknya
(tontonan) serta nila falsafahnya (tuntunan). Selain itu keris naga
dipercaya memiliki tuah dan daya magis yang baik.
Filosofi, Naga merupakan salah satu binatang
mitologis yang melegenda hampir di seluruh dunia. Sebagai makhluk
mitologis perwujudannya pun akan tampak berbeda-beda, tak terkecuali
Naga Jawa. Kisah-kisah tentang Naga di Pulau Jawa pada umumnya
berintikan kisah-kisah mitologis mengenai tuntunan (pedoman nilai-nilai
luhur) dan tontonan (divisualkan secara indah).
Dalam rentang sejarahnya yang panjang konotasi atas kekuatan magis
naga ini demikian lekat dalam alam pikir masyarakat Jawa, tidak
mengherankan apabila motif naga senantiasa hadir dalam sendi-sendi
masayarakat Jawa tersebut. Sebagai contoh dalam bidang keagamaan naga
hadir di bangunan-bangunan suci (candi atau pertirtaan) dan corot kendi
air suci.
Dalam ikon-ikon politik, kata naga seringkali hadir sebagai simbol
kebesaran seorang raja dan kerajaannya, pataka (panji-panji), pusaka,
sengkalan dan lain-lain. Tak ketingalan dalam bidang kesenian, naga
sering menjadi sumber inspirasi penciptaan karya seni, misalnya sastra,
seni tari, pewayangan, tata busana dan lain-lain. Tampaknya, wujud-wujud
naga hampir selalu dihubungkan dengan simbol kesucian yang
menghubungkan manusia dengan Penciptanya.
Naga Tapa (naga yang sedang bertapa)/ Naga Pasa (Naga yang sedang berpuasa).
Sebuah pengingat supaya manusia mampu menekan hawa nafsu berupa
kekuasaan atau jabatan, harta benda atau kekayaan dan lain-lain. Makna
simbolis ini dapat juga dimaknai bahwa sebagai seorang pemimpin tidak
boleh sewenang-wenang, karena apa yang dimiliki hanyalah sampiraning
urip (titipan yang bersifat sementara). Nafsu duniawi yang tidak
terkendali akan membawa pada kesesatan hidup dan menjauhkan dari
daya-daya supranatural. Ia tidak akan mampu menangkap bisikan gaib
sehingga gagal menuju kasampurnaning urip (kesempurnaan hidup) dan
lantiping rasa (rasa yang tajam) atas nilai-nilai keilahian.
Manusia yang menyadari sangkan dan paran-nya (peran) akan berusaha
melepasan diri dari ikatan duniawi. Ia akan berusaha mensucikan dirinya
untuk dapat mencapai kesempurnaan dan terlepas dari karma. Pensucian
diri (raga dan jiwa) manusia diperlihatkan dengan menjaga polah
(perilaku), sabda (kata-kata) dan manah-nya (pikiran) sesuai dengan
darma-nya sebagai seorang ksatriya. Manusia melakukan laku tapa brata
untuk mensucikan raga dan jiwanya.
Laku yang paling sederhana untuk mencapai tujuan itu adalah laku tapa
cegah dahar lawan guling (mencegah nafsu makan dan tidur), laku kungkum
(berendam dalam air), laku ngebleng (menyendiri dalam suatu ruangan),
dan lain sebagainya. Proses laku yang dilakukan manusia ini diharapkan
mampu membangkitkan lantiping rasa (ketajaman rasa), lantiping pikir
(ketajaman berpikir) dan kawicaksanaan urip (hidup bijaksana) sehingga
dapat menangkap wahyu atau daya-daya supranatural.
Dhapur keris Naga Tapa tergolong langka dan jarang dijumpai. Tak
mengherankan pada jaman dahulu, keris dhapur ini banyak dimiliki oleh
Raja atau pemimpin, pangeran, tokoh agama atau kiai hingga orang-orang
yang suka mendalami dunia spiritual.
Filosofi Pamor Segoro Muncar
Untuk mencapai cita cita dan tujuan, diperlukan kesungguhan,
ketekunan, kewaspadaan dan kesabaran. Tidak ada orang sejahtera / kaya
mendadak, semua harus dirintas dari bawah.Sedangkan Pamor Segoro Muncar
bermakna untuk memudahkan/meluaskan rezeki ,memperluas pergaulan,
keselamatan. Disamping yang dimaksud dengan memperluas pergaulan, bahwa
dalam setiap pertemanan kita harus bisa memperbanyak teman serta
menyerap hal yang baik untuk perkembangan diri. Otomatis dengan
sendirinya pintu rejeki kita akan terbuka dengan sendirinya.