Keris Jalak Sangu Tumpeng Sepuh
Mahar : 850.000
- Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jalak Sangu Tumpeng
- Pamor (motif lipatan besi) : Wos Wutah Ceprit Ceprit
- Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Majapahit
- Panjang Bilah : 31 cm
- Warangka : Branggah Jogja Kayu Sono Keling
- Handle / Gagang : Kayu Sawo
- Pendok : Blewah Jogjakarta Kuningan
- Mendak: Kuningan
- Kode: K154
- Informasi dan Pemesanan hubungi 0822-3591-7823
Dialih rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Makna Filosofi Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Ceprit Ceprit
Jalak Sangu Tumpeng adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus,
ukurannya sedang. Gandik-nya polos, memakai pejetan, tikel alis, sogokan
rangkap, sraweyan dan tingil. Ricikan lainnya tidak ada.
KKA KOPEK, Beberapa catatan dari keraton menyebutkan bahwa Kangjeng
Kiai Ageng Kopek adalah salah satu keris pusaka Keraton Yogyakarta yang
oleh kalangan keraton Yogyakarta dan masyarakat Yogyakarta dianggap
sebagai pusaka andalan Raja. Keris itu berdhapur Jalak Sangu Tumpeng,
pamor keris ini mirip elar gangsir, sayap jangkrik yang sedang
memperdengarkan sayap keperwiraannya. Sementara warangkanya terbuat dari
kayu cendana wangi dengan seratnya bermotif kepang. Pendoknya terbuat
dari suasa (campuran emas atau emas muda), bentuknya blewehan.
Kisah singkat yang tercatat dalam gedhong pusaka adalah bahwa KKA
Kopek itu merupakan tanda mata dari Sunan Paku Buwono III. Pusaka itu
diterima Pangeran Mangkubumi dengan perantara Gubernur dan Direktur
Pesisir Utara Pulau Jawa, Nicolaas Hartingh, sewaktu Pangeran Mangkubumi
dinobatkan menjadi Sultan Yogyakarta. Peristiwa itu terjadi pada 13
Februari 1755, beberapa saat setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti,
diserahkan di dusun Pandak Karangnangka.
Menurut kisah legenda, sesungguhnya keris KKA Kopek ini merupakan
pusaka Mataram yang diperoleh pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Semula keris ini adalah milik Kanjeng Sunan Kalijaga, kemudian
diwariskan kepada Sultan Prawoto (Sultan Demak terakhir) dalam
perjalanan sejarahnya keris pusaka ini selalu dimiliki para Raja Jawa.
Sunan Kalijaga memberi pertanyaan kepada Sultan Agung tentang busana
yang dikenakannya, antara lain Jamus Kalimasada, udeng wulung dan
samiaji. Sebelum memberi pertanyaan Sunan Kalijaga berjanji apabila
Sultan Agung berhasil menjawab pertanyaannya maka keris pusaka yang
dimiliki Sunan Kalijaga akan menjadi milik Sultan. Dalam bahasa Jawa
“mengko pek’en” (nanti ambillah menajdi milikmu). Dari kata mengko
pek’en inilah kemudian menjelma menjadi Kopek.
Lalu mengapa kemudian pusaka ini menjadi pusaka andalan Raja? Dari
legenda tadi terungkap bahwa pusaka ini menyimpan misteri kehidupan,
yaitu bahwa manusia dalam hidupnya (Jalak) perlu membawa bekal (sangu)
tumpeng. Tumpeng bisa berarti makanan untuk kehidupan dunia namun dapat
pula berarti yang bersifat rohani (akhirat). Apalagi bila dihubungkan
dengan Jamus Kalimasada, yang dikaitkan dengan Kalimat Syahadat dalam
Islam, udeng wulung merupakan simbol, yaitu apakah manusia Jawa mampu
memahami (mudheng) mengenai agama sebenarnya. Dan Samiaji sebagai
pengingat Raja, dimana merupakan simbol bahwa manusia pada dasarnya
memiliki nilai yang sama di mata Tuhan YME. Raja tanpa mahkota adalah
rakyat, kedaulatan di tangan rakyat. Pusaka tersebut mengandung makna
filosofis yang mendalam. Oleh karena itu sangat bisa dipahami mengapa
keris pusaka tersebut menjadi pusaka utama di Keraton Kasultanan
Yogyakarta, yang berciri utama keseimbangan jasmani-rohani,
material-spiritual yang dilambangkan sebagai bangunan Keraton dan Tugu.
Jika diresapi secara maknawi, keris KKA Kopek berdhapur Jalak Sangu
Tumpeng ini memang pantas dianggap sebagai keris pendamping seorang
pemimipin besar (Raja) karena bersifat penuh simbol putri senantiasa
mengiringi simbol kejantanan, dan belas kasih.
Keris Pamor Wos Wutah / Beras Wutah
Beras Wutah/Wos Wutah artinya beras tumpah yang mewakili ungkapan
“Gemah ripah loh jinawi” (tenteram, makmur, dengan kekayan alam yang
berlimpah).
Pada jaman dahulu, kemakmuran ditandai dengan hasil panen yang
berlimpah, hal itulah yang kemudian mengilhami para Empu untuk memberi
nama Beras Wutah/Wos Wutah pada Pamor Keris buatannya.
Pamor Beras Wutah/Wos Wutah merupakan salah satu jenis Pamor yang
paling banyak dibuat sehingga menjadi salah satu jenis Pamor yang paling
banyak dijumpai terdapat pada sebilah Keris.
Secara fisik bentuk Pamor Beras Wutah/Wos Wutah menyerupai motif
butiran beras tumpah, dan merupakan pamor tiban yang terbentuk dari
proses penempaan yang dilakukan oleh Sang Empu.
Dan secara spiritual, dalam proses pembuatan sebilah Keris Sang Empu
akan melakukan ritual khusus atau tirakat yang intinya adalah sebuah
bentuk permohonan/do’a kepada Yang Maha Kuasa dan menyerahkan hasil dari
tempaannya dalam bentuk Pamor kepada kehendak Tuhan secara ikhlas.
Secara filosofis, Beras Wutah/Wos Wutah menggambarkan harapan dan
keinginan dari Empu pembuat Keris, sehingga Beras Wutah sering
dihubungkan dengan keinginan untuk mendapatkan hasil panen yang
melimpah, atau kehidupan yang lebih makmur. Dan pada jaman sekarang
Beras Wutah/Wos Wutah berarti melambangkan rejeki dan penghasilan yang
melimpah.
Keris Pamor Ceprit Ceprit
Pamor Ceprit adalah pamor di bilah keris dengan pola yang tak
beraturan. Pamor Ceprit sendiri merupakan salah satu ciri khas dari
keris tangguh era majapahit. Yang mana pamor ini nampak wingit, angker
dan sepuh sesuai dengan tangguhnya yang tergolong tangguh sepuh.
Tuah Pamor cepret sangat beraneka ragam karena pamor cepret adalah
bukan termasuk pamor rekan tetapi tiban. Simbolisasi hampir menyerupai
pamor pengawak wojo sepeti untuk simbolisasi proteksi diri, kemampuan
adaptasi, terkait dengan keilmuan kanuragan maupun yang terkait dengan
ilmu batin maupun simbolisasi akan ketiadaan kesulitan dalam mencari
penghidupan sekecil apapun (nunggak semi), dsb. . Pamor Cepret pun punya
karakter yang kuat dan terkesan angker serta memiliki kekuatan rahasia.
Keris Tangguh Majapahit
Keris Tangguh Majapahit, salah satu tangguh yang mempunyai penggemar
fanatiknya tersendiri. Perpaduan antara Eksoteri (bahan material dan
garap kasat mata) dan Isoteri (berhubungan dengan angsar, tuah dll)
dianggap sebagian kalangan menyatu dalam komposisi dan harmonisasi yang
pas. Material logam dan garap tempa lipat keris Majapahit dianggap lebih
baik, begitu pula dengan angsar keris Majapahit dipercaya penggemar
isoteri diatas rata-rata tangguh lainnya.
Secara umum bilahnya ramping dengan tantingannya sangatlah ringan.
Besinya halus, padat semu nglei (halus terdiri dari material-material
kecil) pertanda matang tempa. Umumnya keris berperawakan kecil wingit
dengan beri legam memancarkan sinar kebiruan jika diamati dengan detail
dan seksama. Pada wilah pusaka jangkung ini dapat terlihat permukaan
gandik munkal Gerang atau kurang lebih seperti asahan pisau yang sudah
lama dan sering dipakai. Hal ini menandakan sedemikian detail dan
luwesnya Mpu pambabar pusaka ini. Pamor Blarak Sineret pada sebilah
pusaka Jangkung tangguh Majapahit dengan nuansa ceprit dan aura yang
wingit? Sungguh kombinasi yang sulit ditemukan dan sulit dibuat sehingga
sangat layak dimiliki untuk para pecinta Isoteri dan eksoteri.