Tampilkan postingan dengan label keris jalak sangu tumpeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keris jalak sangu tumpeng. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Desember 2025

Keris Jalak Sangu Tumpeng Tuban Majapahit

Dhapur Jalak Sangu Tumpeng

Keris Jalak Sangu Tumpeng adalah salah satu dhapur keris lurus yang berukuran sedang. Nama ini berasal dari simbol burung jalak yang membawa “sangu tumpeng”, gambaran seorang pejalan kehidupan yang selalu siap dengan bekal lahir dan batin.

Ricikan Dhapur Jalak Sangu Tumpeng

Tuah dan Anggapan Para Pecinta Keris
  • Dan mereka yang bergerak di bidang usaha atau keuangan. 

Ricikan tersebut memberi kesan lugas namun kuat, mencerminkan karakter keris yang sederhana tetapi memiliki filosofi dalam.

Di kalangan pecinta keris, Tuah Jalak Sangu Tumpeng sejak lama diyakini sebagai keris yang membawa kemudahan rezeki. Sangu tumpeng diartikan sebagai bekal kehidupan, sehingga pemiliknya dipercaya mudah mendapatkan peluang, kemudahan usaha, dan kelancaran nafkah. Karena itu, dhapur ini banyak dimiliki oleh:




Rabu, 27 Maret 2019

Keris Jalak Sangu Tumpeng





Keris Jalak Sangu Tumpeng

Mahar : 1.555.000

Keris Jalak Sangu Tumpeng adalah jenis dhapur keris lurus yang memiliki ricikan antara lain, Gandik polos, Tikel alis, Pejetan, Sogokan rangkap, Sraweyan, Thingil.
Nama Jalak Sangu Tumpeng dapat diartikan dengan : Burung Jalak Berbekal Tumpeng.
Jalak adalah burung yang pandai dan rajin mencari makan, mempunyai kepekaan tinggi terhadap lingkungannya tidak merugikan yang lain, dan setia kepada pasangannya.
Tumpeng merupakan sajian nasi kerucut dengan aneka lauk pauk yang ditempatkan dalam tampah (nampan besar, bulat, dari anyaman bambu).
Tumpeng dalam tradisi jawa merupakan sarana mengucap syukur kepada Tuhan YME.



  • Keris Jalak Sangu Tumpeng
  • Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jalak Sangu Tumpeng
  • Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka
  • Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram
  • Panjang Bilah : 33cm
  • pesi masih utuh panjang original tidak sambungan
  • Warangka : Gayaman Surakarta Kayu timoho
  • Handle / Gagang : Kayu Kemuning Kuno
  • Pendok : Bunton Kuningan
  • Mendak: Kuningan
  • Informasi dan Pemesanan hubungi  0822-3591-7823
Keris sangat utuh dan jaminan sepuh kuno. layak dikoleksi

Minggu, 24 Maret 2019

Keris Jalak Sangu Tumpeng





Keris Jalak Sangu Tumpeng Sepuh 
Mahar  : 850.000
  • Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jalak Sangu Tumpeng
  • Pamor (motif lipatan besi) : Wos Wutah Ceprit Ceprit
  • Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Majapahit
  • Panjang Bilah : 31 cm
  • Warangka : Branggah Jogja Kayu Sono Keling
  • Handle / Gagang : Kayu Sawo
  • Pendok : Blewah Jogjakarta Kuningan
  • Mendak: Kuningan
  • Kode: K154
  • Informasi dan Pemesanan hubungi  0822-3591-7823
Dialih rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Ceprit Ceprit Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Ceprit Ceprit

Makna Filosofi Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Ceprit Ceprit

Jalak Sangu Tumpeng adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus, ukurannya sedang. Gandik-nya polos, memakai pejetan, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan dan tingil. Ricikan lainnya tidak ada.
KKA KOPEK, Beberapa catatan dari keraton menyebutkan bahwa Kangjeng Kiai Ageng Kopek adalah salah satu keris pusaka Keraton Yogyakarta yang oleh kalangan keraton Yogyakarta dan masyarakat Yogyakarta dianggap sebagai pusaka andalan Raja. Keris itu berdhapur Jalak Sangu Tumpeng, pamor keris ini mirip elar gangsir, sayap jangkrik yang sedang memperdengarkan sayap keperwiraannya. Sementara warangkanya terbuat dari kayu cendana wangi dengan seratnya bermotif kepang. Pendoknya terbuat dari suasa (campuran emas atau emas muda), bentuknya blewehan.
Kisah singkat yang tercatat dalam gedhong pusaka adalah bahwa KKA Kopek itu merupakan tanda mata dari Sunan Paku Buwono III. Pusaka itu diterima Pangeran Mangkubumi dengan perantara Gubernur dan Direktur Pesisir Utara Pulau Jawa, Nicolaas Hartingh, sewaktu Pangeran Mangkubumi dinobatkan menjadi Sultan Yogyakarta. Peristiwa itu terjadi pada 13 Februari 1755, beberapa saat setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti, diserahkan di dusun Pandak Karangnangka.
Menurut kisah legenda, sesungguhnya keris KKA Kopek ini merupakan pusaka Mataram yang diperoleh pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma. Semula keris ini adalah milik Kanjeng Sunan Kalijaga, kemudian diwariskan kepada Sultan Prawoto (Sultan Demak terakhir) dalam perjalanan sejarahnya keris pusaka ini selalu dimiliki para Raja Jawa. Sunan Kalijaga memberi pertanyaan kepada Sultan Agung tentang busana yang dikenakannya, antara lain Jamus Kalimasada, udeng wulung dan samiaji. Sebelum memberi pertanyaan Sunan Kalijaga berjanji apabila Sultan Agung berhasil menjawab pertanyaannya maka keris pusaka yang dimiliki Sunan Kalijaga akan menjadi milik Sultan. Dalam bahasa Jawa “mengko pek’en” (nanti ambillah menajdi milikmu). Dari kata mengko pek’en inilah kemudian menjelma menjadi Kopek.
Lalu mengapa kemudian pusaka ini menjadi pusaka andalan Raja? Dari legenda tadi terungkap bahwa pusaka ini menyimpan misteri kehidupan, yaitu bahwa manusia dalam hidupnya (Jalak) perlu membawa bekal (sangu) tumpeng. Tumpeng bisa berarti makanan untuk kehidupan dunia namun dapat pula berarti yang bersifat rohani (akhirat). Apalagi bila dihubungkan dengan Jamus Kalimasada, yang dikaitkan dengan Kalimat Syahadat dalam Islam, udeng wulung merupakan simbol, yaitu apakah manusia Jawa mampu memahami (mudheng) mengenai agama sebenarnya. Dan Samiaji sebagai pengingat Raja, dimana merupakan simbol bahwa manusia pada dasarnya memiliki nilai yang sama di mata Tuhan YME. Raja tanpa mahkota adalah rakyat, kedaulatan di tangan rakyat. Pusaka tersebut mengandung makna filosofis yang mendalam. Oleh karena itu sangat bisa dipahami mengapa keris pusaka tersebut menjadi pusaka utama di Keraton Kasultanan Yogyakarta, yang berciri utama keseimbangan jasmani-rohani, material-spiritual yang dilambangkan sebagai bangunan Keraton dan Tugu.
Jika diresapi secara maknawi, keris KKA Kopek berdhapur Jalak Sangu Tumpeng ini memang pantas dianggap sebagai keris pendamping seorang pemimipin besar (Raja) karena bersifat penuh simbol putri senantiasa mengiringi simbol kejantanan, dan belas kasih.
Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Ceprit Ceprit Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Ceprit Ceprit

Keris Pamor Wos Wutah / Beras Wutah

Beras Wutah/Wos Wutah artinya beras tumpah yang mewakili ungkapan “Gemah ripah loh jinawi” (tenteram, makmur, dengan kekayan alam yang berlimpah).
Pada jaman dahulu, kemakmuran ditandai dengan hasil panen yang berlimpah, hal itulah yang kemudian mengilhami para Empu untuk memberi nama Beras Wutah/Wos Wutah pada Pamor Keris buatannya.
Pamor Beras Wutah/Wos Wutah merupakan salah satu jenis Pamor yang paling banyak dibuat sehingga menjadi salah satu jenis Pamor yang paling banyak dijumpai terdapat pada sebilah Keris.
Secara fisik bentuk Pamor Beras Wutah/Wos Wutah menyerupai motif butiran beras tumpah, dan merupakan pamor tiban yang terbentuk dari proses penempaan yang dilakukan oleh Sang Empu.
Dan secara spiritual, dalam proses pembuatan sebilah Keris Sang Empu akan melakukan ritual khusus atau tirakat yang intinya adalah sebuah bentuk permohonan/do’a kepada Yang Maha Kuasa dan menyerahkan hasil dari tempaannya dalam bentuk Pamor kepada kehendak Tuhan secara ikhlas.
Secara filosofis, Beras Wutah/Wos Wutah menggambarkan harapan dan keinginan dari Empu pembuat Keris, sehingga Beras Wutah sering dihubungkan dengan keinginan untuk mendapatkan hasil panen yang melimpah, atau kehidupan yang lebih makmur. Dan pada jaman sekarang Beras Wutah/Wos Wutah berarti melambangkan rejeki dan penghasilan yang melimpah.

Keris Pamor Ceprit Ceprit

Pamor Ceprit adalah pamor di bilah keris dengan pola yang tak beraturan. Pamor Ceprit sendiri merupakan salah satu ciri khas dari keris tangguh era majapahit. Yang mana pamor ini nampak wingit, angker dan sepuh sesuai dengan tangguhnya yang tergolong tangguh sepuh.
Tuah Pamor cepret sangat beraneka ragam karena pamor cepret adalah bukan termasuk pamor rekan tetapi tiban. Simbolisasi hampir menyerupai pamor pengawak wojo sepeti untuk simbolisasi proteksi diri, kemampuan adaptasi, terkait dengan keilmuan kanuragan maupun yang terkait dengan ilmu batin maupun simbolisasi akan ketiadaan kesulitan dalam mencari penghidupan sekecil apapun (nunggak semi), dsb. . Pamor Cepret pun punya karakter yang kuat dan terkesan angker serta memiliki kekuatan rahasia.
Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Ceprit Ceprit

Keris Tangguh Majapahit

Keris Tangguh Majapahit, salah satu tangguh yang mempunyai penggemar fanatiknya tersendiri. Perpaduan antara Eksoteri (bahan material dan garap kasat mata) dan Isoteri (berhubungan dengan angsar, tuah dll) dianggap sebagian kalangan menyatu dalam komposisi dan harmonisasi yang pas. Material logam dan garap tempa lipat keris Majapahit dianggap lebih baik, begitu pula dengan angsar keris Majapahit dipercaya penggemar isoteri diatas rata-rata tangguh lainnya.
Secara umum bilahnya ramping dengan tantingannya sangatlah ringan. Besinya halus, padat semu nglei (halus terdiri dari material-material kecil) pertanda matang tempa. Umumnya keris berperawakan kecil wingit dengan beri legam memancarkan sinar kebiruan jika diamati dengan detail dan seksama. Pada wilah pusaka jangkung ini dapat terlihat permukaan gandik munkal Gerang atau kurang lebih seperti asahan pisau yang sudah lama dan sering dipakai. Hal ini menandakan sedemikian detail dan luwesnya Mpu pambabar pusaka ini. Pamor Blarak Sineret pada sebilah pusaka Jangkung tangguh Majapahit dengan nuansa ceprit dan aura yang wingit? Sungguh kombinasi yang sulit ditemukan dan sulit dibuat sehingga sangat layak dimiliki untuk para pecinta Isoteri dan eksoteri.