Jumat, 05 Desember 2025

Keris Parungsari Luk 13 Pamor Keleng Sedayu Majapahit

Keris Parungsari adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas yang memiliki karakter sangat anggun. Panjang bilah umumnya sedang dengan ricikan lengkap:
  • Kembang kacang
  • Lambe gajah dua (ciri pembeda utama dengan dhapur Sengkelat yang hanya satu)
  • Sraweyan
  • Sogokan rangkap
  • Pejetan
  • Greneng
Menurut berbagai serat dan penuturan ahli keris, dhapur ini diasosiasikan dengan era pemerintahan Prabu Banjaransekar dari Pajajaran, sekitar tahun Jawa 1170-an. Masa itu dikenal sebagai periode kejayaan estetika di Tatar Sunda, dimana keris-keris Pajajaran tampil dengan karakter tegas, rapih, sekaligus megah, namun tetap mengusung nilai kerendahhatian.

Filosofi Parungsari
1. Makna Parung dan Sari
  • Parung : deretan lembah-bukit, suatu lanskap yang naik-turun.
  • Sari : bunga atau inti sari keharuman.
Jika digabungkan, Parungsari adalah keindahan yang tumbuh di antara kemelut hidup, bunga-bunga yang mekar di sela lembah. Di dalam kiasan Sunda–Jawa, menggambarkan keberanian menjalani hidup apa adanya, tanpa dibuat-buat, tanpa topeng.

2. Filosofi Lembah–Bukit

Lembah dan bukit adalah metafora tentang:
  • naik–turunnya nasib
  • kelapangan menerima cobaan
kemampuan tumbuh sebagai tanaman pioneer, tidak manja, tidak menuntut kondisi ideal.
Tanaman pioneer tumbuh di tempat yang sulit. Seperti itulah ajaran Parungsari:
Yang ikhlas, justru tumbuh paling kuat.

3. Kecantikan Budi

Parungsari melambangkan keikhlasan yang berbunga, kecantikan batin yang tidak dibuat-buat. Ia mengajarkan:
  • Bila tidak merasa tinggi, mengapa takut jatuh
  • Bila tidak merasa mulia, mengapa merasa dihina
  • Bila tidak pernah menggenggam, mengapa takut kehilangan
  • Sebuah ajaran keluhuran batin yang cocok bagi mereka yang ingin belajar ngemong, sabar, dan menata laku.
4. Makna Kultural

Parungsari senapas dengan peribahasa luhur:
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.
Artinya: keindahan sejati adalah warisan perilaku, bukan pencitraan.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar