Keris Parungsari adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas yang memiliki karakter sangat anggun. Panjang bilah umumnya sedang dengan ricikan lengkap:
- Kembang kacang
- Lambe gajah dua (ciri pembeda utama dengan dhapur Sengkelat yang hanya satu)
- Sraweyan
- Sogokan rangkap
- Pejetan
- Greneng
Menurut berbagai serat dan penuturan ahli keris, dhapur ini diasosiasikan dengan era pemerintahan Prabu Banjaransekar dari Pajajaran, sekitar tahun Jawa 1170-an. Masa itu dikenal sebagai periode kejayaan estetika di Tatar Sunda, dimana keris-keris Pajajaran tampil dengan karakter tegas, rapih, sekaligus megah, namun tetap mengusung nilai kerendahhatian.
Filosofi Parungsari
1. Makna Parung dan Sari
- Parung : deretan lembah-bukit, suatu lanskap yang naik-turun.
- Sari : bunga atau inti sari keharuman.
Jika digabungkan, Parungsari adalah keindahan yang tumbuh di antara kemelut hidup, bunga-bunga yang mekar di sela lembah. Di dalam kiasan Sunda–Jawa, menggambarkan keberanian menjalani hidup apa adanya, tanpa dibuat-buat, tanpa topeng.
2. Filosofi Lembah–Bukit
Lembah dan bukit adalah metafora tentang:
- naik–turunnya nasib
- kelapangan menerima cobaan
kemampuan tumbuh sebagai tanaman pioneer, tidak manja, tidak menuntut kondisi ideal.
Tanaman pioneer tumbuh di tempat yang sulit. Seperti itulah ajaran Parungsari:
Yang ikhlas, justru tumbuh paling kuat.
3. Kecantikan Budi
Parungsari melambangkan keikhlasan yang berbunga, kecantikan batin yang tidak dibuat-buat. Ia mengajarkan:
- Bila tidak merasa tinggi, mengapa takut jatuh
- Bila tidak merasa mulia, mengapa merasa dihina
- Bila tidak pernah menggenggam, mengapa takut kehilangan
- Sebuah ajaran keluhuran batin yang cocok bagi mereka yang ingin belajar ngemong, sabar, dan menata laku.
4. Makna Kultural
Parungsari senapas dengan peribahasa luhur:
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.
Artinya: keindahan sejati adalah warisan perilaku, bukan pencitraan.
.png)