Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sempono Luk 9
Pamor (motif lipatan besi) : Jolotundo ( ada pamor rojogundolo)
Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran Abad Ke 14 Masehi
Panjang Bilah : 35 cm
Warangka : Gayaman SUrakarta Gandar Iras Kayu Mangga Hutan Kuno
Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno
Pendok : Blewah Mamas Kuno
Mendak : Model Parijatra Perunggu
Keris dengan pamor langka dan unik cocok mengisi almari keris koleksi anda
Barang sama persis seperti foto.
Foto tanpa edit apa adanya
Keris Luk 9 Sebagai Simbol Kerohanian
Sejak jaman purbakala hingga saat ini, keris menemukan bentuknya yang
bermacam-macam dan penuh dengan makna spiritual yang dalam dibalik
pembuatanya. Orang-orang jaman sekarang akan semakin rumit bila
mempelajari keris secara satu per satu, karena banyak sekali makna yang
terkandung di dalam masing-masing keris.
Warangka atau sarung keris
Warangka, atau sarung keris (bahasa Banjar : kumpang), adalah komponen
keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial
masyarakat Jawa, paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara
langsung. Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah
jati, cendana, timoho, dan kemuning). Sejalan dengan perkembangan zaman
terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi
penggunanya. Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan
gading.
Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka, yaitu jenis warangka
ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek,
godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis
lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya
hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong,
dan gandek.
Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak
mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi , misalkan menghadap
raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat
kerajaan, perkimpoian, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara
penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk
(stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan
untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk
keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat
pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang).
Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman ,
pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka
gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya
lebih sederhana.
Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama
menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang (
sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi
gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari
kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam
campuran ).
Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya
tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti
selongsong-silinder yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan
selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah , dibuat dari
logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak, emas . Untuk
daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau,
Bali ) pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan
seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian.
Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1)
pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya ,
(2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu
ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat , serta (3) pendok
topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari
hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos
(tanpa ukiran).
Wilah atau bilah keris
Wilah, wilahan, atau bilah adalah bagian utama dari sebuah keris. Wilah
keris adalah logam yang ditempa sedemikian rupa sehingga menjadi senjata
tajam. Wilah terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk
setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk
pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa
disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub,
bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll.
Pada pangkal wilahan terdapat pesi , yang merupakan ujung bawah sebilah
keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris (
ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang
sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di
daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk
daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.
Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut
ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya
terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga
bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji
mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni,
dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan
lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut
sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut disebut
wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada
bermacam-macam, wilut , dungkul , kelap lintah dan sebit rontal.
Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat
dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang
lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara
sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai dari pangkal keris ke arah
ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi
seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah
banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan
tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak
adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih
dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija, atau keris tidak
lazim.
Untuk menjelaskan turunan atau "pecahan" tuah pokok keris, pada jaman
sekarang ini, maka kami membagi tuah pokok keris menjadi 2, yaitu :
1. Tuah kesaktian, keselamatan, kekuasaan dan wibawa.
2. Tuah kerejekian.
Untuk jenis tuah keris yang pertama, yaitu tuah kesaktian, keselamatan,
kekuasaan dan wibawa, turunan atau pecahan tuah kerisnya adalah sebagai
berikut :
1. Tuah Keselamatan.
Secara umum pada jaman sekarang, tuah inilah yang diberikan oleh keris
kepada pemiliknya, yaitu untuk menjaga keselamatan si pemilik secara
gaib dari serangan / gangguan gaib atau orang-orang yang berniat jahat /
mencelakakannya.
2. Tuah Kesaktian.
Keris yang memberikan tuah kesaktian, selain berguna untuk menjaga
keselamatan si pemilik secara gaib dari serangan / gangguan gaib atau
orang-orang yang berniat jahat / mencelakakannya, juga berguna untuk
tujuan adu kekuatan gaib atau kesaktian, yaitu untuk menembus benteng
pertahanan gaib lawannya (perlindungan gaib atau ilmu kebal lawan) atau
untuk menyerang langsung secara fisik maupun secara gaib. Penggunaan
kekuatan gaib keris biasanya dilakukan oleh orang yang mengerti tentang
ilmu gaib dan bisa menggunakan kekuatan gaib. Namun serangan secara
fisik bisa dilakukan oleh siapa saja yang memegang keris.
3. Tuah Kekuasaan dan Wibawa.
Keris yang memberikan tuah untuk kekuasaan dan wibawa, berguna untuk
menaikkan derajat pemiliknya hingga dapat mencapai derajat yang tinggi,
mengamankan posisinya dari persaingan dan menjaga wibawanya di mata
atasan maupun bawahan.
4. Tuah Kewibawaan.
Keris bertuah kewibawaan hanya akan memberikan tuah untuk menjaga wibawa
si pemilik di mata atasan maupun bawahan dan di mata orang-orang lain
di sekitarnya. Tuah ini juga berguna untuk menjauhkan si pemilik dari
fitnah yang akan menjatuhkan martabatnya.
5. Tuah Penundukan.
Tuah dari keris ini berguna untuk menundukkan lawan bicara, sehingga
pembicaraan si pemilik keris tidak akan dibantah oleh orang yang
mendengarkannya dan permintaan atau perintahnya kepada orang lain akan
dituruti.
6. Tuah Pambungkem.
Jenis tuah ini sebenarnya adalah turunan dari keris bertuah penundukkan
dan wibawa. Walaupun tuahnya adalah turunan dari tuah penundukkan dan
wibawa, keris yang memberikan tuah ini tidak lagi memberikan tuah untuk
penundukkan ataupun wibawa, tetapi memberikan tuah yang lebih ekstrim
lagi, yaitu membungkam mulut lawan bicara si pemilik keris atau membuat
lawan bicara menjadi seolah-olah lupa akan apa yang akan diucapkannya.
Ini berguna sekali saat si pemilik keris sedang mengalami tuntutan atau
dakwaan. Orang-orang yang menuntutnya akan banyak diam atau lupa akan
apa yang akan dituntutnya, sehingga si pemilik keris akan terbebas dari
tuntutan.
Keris-keris yang bertuah untuk kewibawaan, penundukkan atau pambungkem
mungkin dimanfaatkan oleh orang-orang (atau pejabat) yang bermasalah di
pengadilan dengan membawanya ke ruang sidang (di dalam tas tentunya)
untuk mengamankan dirinya dari tuntutan hukum.