Pusaka Keris HB Hamengkubuwono VII Pamor Tambal Wengkon
Mahar : 15.500.000
- Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Sari
- Pamor (motif lipatan besi) : Tambal Wengkon
- Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : HB VII / Hamengkubuwono ke-7 (Nom-noman)
- Panjang Bilah : 35 cm
- Pesi Utuh Masih Panjang Original
- Warangka : Gayaman Jogja Kayu Timoho
- Handle / Gagang : Kayu Timoho
- Pendok : Bunton Slorok Jogja Tembaga
- Mendak: Model Jogjakarta Bahan Perunggu Kuno
- Kode: K163
- Informasi dan Pemesanan hubungi 0822-3591-7823
Dialih rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Keistimewaan Pusaka Keris HB Hamengkubuwono VII Pamor Tambal Wengkon
Keris Pamor Tambal Wengkon
Pamor ini merupakan perpaduan dari 2 pamor dalam satu bilah keris. Yaitu pamor Wengkon dengan Pamor Tambal di tengahnya.
Pamor Wengkon adalah pamor berupa garis yang melingkupi tepi bilah
keris. Seperti frame. Sedangkan pamor Tambal adalah pamor seperti
tambalan di tengah-tengah bilah keris yang jumlahnya bervariasi dari
5,6,7, dst.
Pamor Wengkon ini perlambang perlindungan, atau melindungi. Bisa saja
diartikan kita sebagai pemilik pusaka harus mampu melindungi diri,
keluarga dan lingkungan sekitar kita dari hal2 yang kurang baik atau
yang tidak diinginkan. Hidup ini terdapat paugeran, norma-norma yang
merupakan aturan-aturan lainnya, disitulah kita berada.
Ada frame yang perlu kita ikuti agar kita bisa terlindung dari
sesuatu yang tidak diinginkan. Tetapi kita tidak bisa begitu saja
melindungi tanpa menutupi segala kekurangan yang ada. Tambal maknanya
menutupi sesuatu yang lubang. Diartikan kelemahan-kelemahan dalam diri
kita. Jika kita bisa menutup kelemahan-kelemahan yang ada pada diri
kita, maka kita juga akan terlindungi dari hal-hal yang tidak
diinginkan.
Misalnya, kita memiliki kelemahan iman, kelemahan pemahaman, dan
kelemahan lainnya, maka jika kita bisa menambal, menutupi kelemahan itu
dengan cara belajar, maka kita akan lebih mampu melindungi kita terhadap
godaan-godaan dari luar.
Pamor Tambal Wengkon juga dipercaya memiliki banyak kandungan tuahnya
yaitu sebagai sarana perlindungan, keselamatan diri dan keluarga dari
segala hal yang tidak diinginkan, bagus untuk bersosial kepada
masyarakat karena sifatnya yang mampu membuat citra baik dan menutupi
kekurangan diri. Keris ini juga banyak diburu oleh mereka yang sedang
mencarti citra baik dan konon juga banyak digunakan untuk orang yang
banyak hutang dan sedang terlilit masalah.
Keris Dhapur Tilam Sari
Tilam Sari adalah salah satu bentuk Dhapur keris lurus yang cukup
banyak dijumpai di Pulau Jawa. Bentuk keris itu sangat serupa dengan
keris dhapur Tilam Upih. Ricikan-nya adalah: Gandik Polos berukuran
normal, tikel alis, pejetan, sraweyan, dan thingil berbentuk ri pandan.
Menurut cerita pitutur lisan, salah satu wali-sanga, yaitu Kanjeng Sunan
Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau, bahwa
keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam
Upih kemudian pasangannya adalah Tilam Sari. Menurut beliau keris
dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka
maupun duka, disaat prihatin dan disaat jaya.
Tilam yang dalam terminologi Jawa berarti tikar yang terbuat dari
anyaman daun untuk alas tidur, diistilahkan sebagai kondisi sedang
tirakat/prihatin, masih tidur dengan alas yang keras, belum dengan alas
yang empuk. Sedangkan Sari berarti kembang yang mempunyai filosofi luhur
lambang rasa bakti terhadap orang tua, kemulyaan hidup dan keharuman
nama.
Para orang tua jaman dahulu biasanya secara turun temurun memberikan
anaknya yang menikah dengan keris dhapur tilam upih atau tilam sari,
yang artinya mengingatkan sebuah tujuan hanya bisa dicapai dengan laku
prihatin (tirakat) dan doa. Hakekat dan tujuan dari laku prihatin
(tirakat) dan doa adalah usaha untuk menjaga agar kehidupan manusia
selalu ‘keberkahan’, kesejahteraan lahiriah maupun batin, selamat dan
sejahtera dalam lindungan Tuhan, agar dihindarkan dari
kesulitan-kesulitan dan terkabul keinginan-keinginannya. Yang membuat
orang berhasil mencapai tujuannya dengan menjalankan suatu laku prihatin
(tirakat) adalah bukan semata-mata karena bentuk laku-nya, melainkan
karena mereka akan tetap bijaksana dalam menjaga hal-hal yang positif
dan menjauhi hal-hal yang bersifat negatif, sehingga segala sesuatu yang
dikerjakan akan terkondisi pada arah yang benar untuk tercapainya
tujuan, dan tentu saja doa adalah kendaraan yang mempercepat.
Keris Tangguh Hamengkubuwono
Ciri khas keris Hamengku Buwanan atau keris Ngayogyakarta itu prasaja
dan mrabu. Sederhana, tidak gemerlap akan tetapi berwibawa dan
memancarkan sifat raja. Keris Tangguh Yogyakarta atau Keris Tangguh
Hamengkubuwono sering disebut dengan sebutan keris HB, HB merupakan
singkatan dari Hamengkubuwono.
Sumber lain juga menyebutkan bahwa Tangguh Yogyakarta agak mirip
dengan tangguh Majapahit. Pasikutannya wingit danprigel. Besinya lumer
(halus rabaannya) dan berkesan ‘kering’, warnanya agak biru. Menancapnya
pamor pada bilah pandes lan ngawat (kokoh dan serupa kawat), sebagian
pamor itu mrambut. Panjang bilahnya berukuran sedang, makin ke atas
makin ramping hingga berkesan meruncing. Luknya tidak begitu rapat,
Gandiknya miring dan agak pendek.